Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

LAYANAN INFORMASI DATA GURU P2TK DIKDAS (SD dan SMP)


Layanan P2TK Dikdas terkait dengan AnekaTunjangan, telah berpindah Alamat:

Awalnya : http://116.66.201.163:8083/info.php

PINDAH ALAMAT di

Mirror 1 : http://223.27.144.195/info.php
Mirror 2 : htto://223.27.144.195:8081/info.php
Mirror 3 : http://223.27.144.195:8082/info.php
Mirror 4 : http://223.27.144.195:8083/info.php

agar akses lebih cepat pilih salah satu dari 4 halaman tersebut:

Daftar Web Acsess Penting Pendidikan 2013 yang harus diketahui Guru

Seiring berjalannya waktu, Dunia Pendidikan saat ini mulai hadir dengan beragam inovasi yang salah satunya sudah menggunakan fasilitas Online dalam Administrasi pendidikan. Oleh karena itu saya ingin mengingatkan kepada netter semua tentang beberapa alamat URL yang berkaitan dengan Dunia Pendidikan dan Tenaga Kependidikan saat ini. baik langsung ke Point aja.

NISNhttp://nisn.data.kemdiknas.go.id/page/home 
PENCARIAN NISNhttp://nisn.data.kemdiknas.go.id/page/data 
FORMULIR NISN BARUhttp://nisn.data.kemdiknas.go.id/page/dyn/4 

NPSNhttp://npsn.data.kemdiknas.go.id/

PENDIDIKAN DASAR (DIKDAS)http://dikdas.kemdikbud.go.id/
PENDIDIKAN MENENGAH (DIKMEN)http://dikmen.kemdikbud.go.id/html/index.php
PAUDhttp://www.paudni.kemdikbud.go.id/ 

SERGURhttp://sergur.kemdiknas.go.id
PESERTA UKhttp://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/

DAPODIK 

MANAJEMEN : http://pendataan.dikdas.kemdikbud.go.id
PORTAL : http://infopendataan.dikdas.kemdiknas.go.id
FORUM : http://infopendataan.dikdas.kemdiknas.go.id/forum/index.php

VERIFIKASI DATA GURU
MIRROR 1 : http://223.27.144.195/info.php
MIRROR 2 : http://223.27.144.195:8083/info.php
MIRROR 3 : http://223.27.144.195:8082/info.php
MIRROR 4 : http://223.27.144.195:8081/info.php
MIRROR 5 : http://223.27.144.195:8313/info.php

CEK SK TUNJANGANhttp://223.27.144.198:8000/
Alternatif http://223.27.144.195:8000/

Pemutakhiran Data NUPTKhttp://padamu.kemdikbud.go.id/
Selamat mencoba. :)

Jumat, 25 November 2011

Detik-Detik Meninggalnya Rasulullah SAW

Inilah detik detik yang terjadi ketika nabi Muhammad saw menghembuskan nafas terakhir

Kemudian masuklah malaikat Jibril as menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.” Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah.

Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.” Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yg tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu = para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yg sebaik-baiknya.”

‘Aisyah ra menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.” Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yg bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yg ridha dan tidak murka.”

Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia ra berkata:”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib ra terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan ra seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khaththab ra berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dg pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa as pergi untuk menemui Rabb-Nya.” Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar ra, dia masuk kpd Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar ra menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yg paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Timeline Sejarah Kebudayaan Islam II

.:: TAHUN KEENAM HIJRIAH ::.

  • Terjadi Perang Banu Lahyan karena pengkhianatan mereka tetapi tidak sampai pertempuran. 
  • Terjadi peperangan Ghabah, yang menimbulkan pertempuran yang dahsyat. 
  • Terjadi pula perang Hudaibiah. Rasulullah berangkat dengan 1.500 orang sahabatnya untuk beribadah haji dengan tidak membawa senjata setiba disana lalu orang-orang Quraisy menghalang-halanginya. oleh karena itu Rasulullah mengutus Utsman untuk memberitahukan maksud kedatangan beliau. maka orang-orang Quraisy lalu menawannya hingga tersiar di kalangan orang-orang islam, bahwa Utsman terbunuh, kemudian Rasulullah bersama-sama sahabatnya bersumpah di bawah phon Ridwan bawa mereka tidak akan mundur dari pertempuran setelah orang-orang Quraisy mendengar hal itu lalu mereka mengadakan perundingan damai dengan merumuskan perjanjian-perjanjian seperti dalam 10 tahun diadakan genjatan senjata dan menentramkan orang-orang. maka Rasulullah kembali dengan beberapa sahabatnya dari Hudaibiah. di tengah perang itu turunlah Surah Al-Fatah maka gembiralah orang-orang islam. sesudah perjanjian itu, mudahlah bagi orang-orang islam untuk keluar masuk kota Mekkah, dengan demikian bertambahlah pengaruh Rasulullah di sana. setelah itu beliau mengirimkan beberapa pucuk surat kepada aja-raja di sekitar negeri Arab dengan maksud untuk mengajak masuk islam. diantara raja-raja itu ada yang menerimanya dengan baik kemudian masuk islam dan ada juga yang menolaknya.
.:: TAHUN KETUJUH HIJRIAH ::.

  • Terjadi Perang Khaibar. Rasulullah mengepung negeri itu selam 6 hari. setelah itu beliau menyerahkan bendera dan pimpinan peperangan kepada Sayyidina Ali kemudian Khaibar dibebaskan.
  • Kaum Yahudi Fadak mengadakan perjanjian damai untuk menghindari pertumpahan darah dan melindungi harta benda mereka.
  • Kaum Yahudi Taima' dengan Ikhlas dan sukarela membayar pajak pada pemerintahan islam hingga mereka merasakan keamanan dalam negerinya.
  • Terjadi Perang Wadil Qura' dan sahabat Muhajiri yang dahulu hijrah ke Habsyi kembali.
  • Rasulullah pergi ke Makkah dengan beberapa sahabatnya untuk beribadah Umrah, menurut perjanjian Hudaibiah. tiba-tiba orang-orang Quraisy Makkah keluar dari negerinya karena tidak suka melihat Rasulullah berthawaf dalam Baitul Haram. Tiga hari sesudah di Makkah Rasulullah kembali ke Madinah.
  • Rasulullah Menikah dengan Shafiyyah, setelah penaklukan Khaibar, lalu Menikah dengan Maimunah di Makkah.
  • Tiga Orang Jenderal Quraisy masuk Islam mereka yaitu ; 
      • Khalid bin Walid
      • 'Amr bin 'Ash, dan 
      • Abi Thalhah.
 .:: TAHUN KEDELAPAN HIJRIAH ::.

  • Terjadi Perang Mu'tah, diantara pahlawan islam yang tewas dalam peperangan itu ialah para panglima yakni ; Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. setelah bendera perang dan pemimpin tentara itu dipegang oleh Khalid bin Walid makin dahsyatlah pertempuran dengan rang-orang Roma itu. karena kebijaksanaannya dalam siasat perang ia dapat meloloskan tentara islam dari kepngan musuh yang jauh lebih kuat dan lebih besar jumlahnya itu.
  • Terjadi penaklukan Kota Makkah karena kaum Qraisy melanggar syarat perjanjian Hudaibiah, Rasulullah menyerbu ke sana dengan balatentara sebesar 10.000 orang. Seorang penyelidik Quraisy yaitu Abu Sufyan ditemukan oleh tentara islam di tengah jalan lalu ditawannya dan kemudian masuk islam, Rasulullah bertemu dengan pamannya 'Abbas yang telah meninggalkan Makkah untuk memeluk agama Islam lalu bersama-sama beliau ia kembali ke Makkah. beliau juga bertemu dengan Abu Sufyan bin Harits dan 'Abdullah bin Umayyah yang karena keinsafannya sendiri keduanya pun masuk islam. kemudian Rasulullah masuk Makkah dari sebelah utara sedangkan Khalid bin Walid memasuki Makkah dari sebelah selatan dan terpaksa ia menyerang dan memukul mundur kaum Quraisy yang hendak menghalang-halagi masuk Makkah.
  • Rasulullah memberi pengampunan kepada kaum Quraisy yang dulu pernah memusuhi serta mengusir beliau. ketika di Makkah itu beliau merobohkan beberapa berhala yang berdiri tegak berderet-deret di sekitar Ka'bah. sesudah itu banyaklah orang lelaki dan perempuan yang berjanji dan bersumpah di hadapan beliau. diantara orang-orang yang masuk islam pada hari pembebasan Makkah itu yang utama ialah Abu Quhafah (Ayah Abu Bakar Ash-Shidiq) dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan.
  • Terjadi peperangan Hunain dan Thaif. Rasulullah berangkat ke Hunai dengan balatentara sebanyak 20.000 orang untuk menggempur kabilah Tsaqif dan Hawazin akibat serangan musuh yang tiba-tiba dan terencana maka tentara islam banyak yang mundur (karena membanggakan kebesaran jumlah dan kekuatan mereka sehingga lengah atas kekuatan musuh). hanya beliau dan beberapa sahabat yang masih tetap mempertahankan dalam tempat kedudukan itu. akan tetapi demi mendengar komando maju maka semua tentara yang mengundurkan diri tadi segera maju serentak sehingga orang-orang islam mendapat kemenangan yang gemilang. dari pihak musuh yang terbunuh lebih 70 orang. dan banyak pula yang tertawan beserta keluarganya, harta benda mereka pun banyak yang dirampas. sis-sislah sisa musuh yang berlindng dan bertahan di Thaif itu, karena tentara islam terus mengejar dan mengepung benteng mereka selama 18 hari. dalam perang itu tentara islam yang tewas ada 12 orang sesudah selesai berperang itu beliau pergi menuju Ji'ranah, ketika beliau sedang istirahat disana datanglah kepada beliau dari kabilah Hawazin dan menyerah. penyerahan mereka itu disambut oleh beliau dengan mengembalikan dan membebaskan beberapa tawanan. adapun harta benda-benda mereka tetap jadi rampasan. dari Ji'ranah beliau lalu beribadah umrah lalu masuk negeri Makkah, dan pada malamnya kembali ke Madinah.
.:: TAHUN KESEMBILAN HIJRIAH ::.

  • Terjadi perang Tabuk tetapi tidak sampai terjadi pertempuran. Rasullullah berangkat dengan 30.000 orang Jaisyul 'usrah untuk memerangi tentara Rum, untuk itu para dermawan islam menyokong dengan harta-bendanya ketika itu datanglah menghadap beliau orang-orang yang banyak alasan dan orang-orang dari golongan Munafiq untuk meminta izin tidak ikut berperang beliaupun mengijinkan pula. maka Allah mencela kepada golongan munafiq yang meminta izin dan membuat-buat alasan itu. di tabuk datanglah gubernurAilah beserta pengikutnya kepada beliau untuk mengadakan perdamaian setelah itu beliau kembali ke Madinah. di tengah-tengah perjalanan pulang beliau menyuruhkan Masjid Dhirar yang didirikan oleh golongan Munafiq Madinah, setelah itu beliau sampai di Madinah datanglah utusan dari Tsaqif menghadap beliau.
  • Abdullah bin Ubai (pemimpin Kaum Munafiq) meninggal dunia.
  • Meninggalnya putri Rasulullah SAW yang bernama Ummu Kultsum.
  • Kaum Muslimin melaksanakan Ibadah haji ke Makkah dipimpin oleh Abu Bakar Shidiq.
 .:: TAHUN KESEPULUH HIJRIAH ::.

  • Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib ke kabilah Yaman, setelah berangkat beliau berpesan kepadanya agar jangan sampai memerangi mereka sebelum mereka itu memeranginya. akan tetapi  karena mereka memerangi orang-orang Islam maka terpaksa orang-orang islam memerangi mereka sehingga mereka mundur dan melarikan diri. kemudian Ali mengajak mereka sekali lagi untuk masuk islam lalu mereka pun masuk islam.
  • Rasulullah mengutus Mu'adz bin Jabal untuk pergi ke dataran tinggi Yaman dan Abu Musa Asy'ari ke dataran rendahnya kepada keduanya beliau berpesan "Mudahkanlah mereka itu nanti dan Janganlah mempersulit."
  • telah banyak utusan-utusan orang Arab dan orang-orang masuk islam.
  • Rasulullah SAW melaksanakan Haji Wada' (haji Perpisahan), pada waktu itu beliau berkhutbah yang terkenal dengan nama Khutbah 'Arafah yaitu Khutbah pada Hari 'Arafah. diantara isi khutbah itu banyak memberi pelajaran pada manusia tentang pokok-pokok agama islam dan cabang-cabangnya.
  • Putra Rasulullah SAW yang bernama Ibrahim meninggal Dunia.
.:: TAHUN KESEBELAS HIJRIAH ::.

  • Rasulullah SAW menyiapkan tentara yang dikepalai oleh Usamah bin Zaid dan beliau menyuruhnya agar berangkat ke Ubna. akan tetapi sebelum tentara itu berangkat beliau telah mulai sakit hingga tentara itu tidak jadi berangkat. di tengah-tengah sakit beliau meminta izin kepada istri-istrinya agar beliau dirawat di rumah 'Aisyah. mereka mengizinkannya ketika sakitnya itu terasa parah beliau menyuruh Abu Bakar agar ia shalat dengan umat islam lainnya sebagai imam. orang-orang Anshar mendengar beliau sakit itu ikut berduka cita lalu berkumpul di masjid. karena berkumpulnya mereka itu, beliau kemudian keluar ke tempat mereka dengan berjalan merangkul Ali dan Fadhal. setelah di masjid, beliau duduk di tangga mimbar yang terbawah sambil berkhutbah kepada mereka. kemudian pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal beliau Wafat. sebelum dimakamkan jenazah beliau menetap di rumahnya sampai malam Rabu, sehingga orang-orang islam selesai memilih khalifah sebagai pengganti beliau. setelah selesai kemudian beliau dimandikan dan kemudian dikafani dengan tiga lapis kain baju. kemudian orang-orang islam menyalatkannya dengan teratur. sesudah semuanya selesai beliau dimakamkan di rumah 'Aisyah.
baca juga detik meninggalnya Nabi Muhammad SAW. di sini..
demikian rangkuman sejarah yang bisa penulis posting, semoga bermanfaat. Amiin.

          Kamis, 24 November 2011

          Timeline Sejarah kebudayaan Islam.

          Berikut adalah kejadian-kejadian yang tak boleh terlupakan sebagai Muslim :

          TAHUN PERTAMA HIJRIAH
          • Rasulullah SAW Mendirikan Masjid yang Mulia. Beliau ikut dalam mendirikan masjid itu, agar jadi tauladan bagi umatnya untuk rajin bekerja.
          • Disyari'atkan Adzan untuk mengingatkanorang-orang yang lupa atau lalai, sehingga shalat berjamaah dapat lebih merata.
          • Dalam adzan shubuh bilal menambahkan kalimat الصلاة خير من النوم  pendapat ini disetujui pula oleh Nabi Muhammad SAW.
          • Di bulan Ramadhan saat Fajar, Nabi SAW memerintahkan adzan dua kali, yang pertama untuk mengingatkan orang-orang yang lupa, sehingga bangun untuk sahur, dan adzan yang kedua untuk shalat shubuh.
          • sejak zaman Rasulullah SAW sampai khalifah Abu Bakar dan Umar, Adzan Jum'at itu hanya sekali dilakukan, yaitu ketika imam sudah duduk di atas mimbar dan adzan tadi dilakukan di pintu masjid. maka pada masa khalifah Utsman RA. adzan itu ditambahkan satu menjadi dua kali karena orang-orang bertambah banyak.
          • pada tahun ini pula Orang-orang Yahudi Madinah menampakkan permusuhannya terhadap kaum muslimin yang dibantu oleh orang-orang munafiq madinah. kemudian Rasulullah mengadakan perjanjian dengan mereka.
          • Rasulullah SAW mengutus pamannya dengan perang sariyah, untuk menyerbu kafilah Quraisy setelah itu berturut-turutlah peperangan selanjutnya. adapun peperangan yang tidak diikuti Rasulullah SAW sejumlah 47 kali dan yang diikuti beliau sejumlah 27 kali.
          • Saudara Rasulullah Utsman bin Mazh'un meninggal dunia. setelah dimakamkan beliau memerintahkan menyiram makam itu dengan air. oleh beliau diletakkan batu seraya berkata : " Batu itu untuk menandai makam saudaraku." 
           .:: TAHUN KEDUA HIJRIAH ::.

          • Terjadi perang Waddan, buwath, Ushairah, Badar Pertama, dan Qarqaratul kadar. akan tetapi semua itu tidak sampai terjadi peperangan. namun pada tahun yang sama terjadilah perang Badar Besar, Qainuqa' dan Sawiq.
          • Qainuqa' adalah kabilah kaum yahudi madinah yang menampakkan permusuhan kepada orang-orang islam dan mengkhianati perjanjian yang telah dibuat bersama-sama Rasulullah SAW.
          • Rasulullah mengepung mereka selama 15 malam, hingga mereka takut dan mereka pun menyerah.
          • Awal terjadinya Perang Badar, yaitu Perang antara kaum muslim dan kaum kafir di desa Badar. dimana perang ini Rasulullah keluar dengan 313 orang lelaki untuk menyerbu kafilah Quraisy. ketika mereka mengetahui demikian lalu mengirimkan 650 orang, hingga terjadilah pertempuran yang dahsyat dan mereka pun kalah. orang-orang islam menawan mereka dan mengambil harta bendanya. dari pihak orang Quraisy yang terbunuh ada 70 orang dan yang ditawan ada 70 orang pula. sedangkan dari pihak Muslim yang terbunuh hanya 14 orang. Rasulullah menentukan tawanan-tawanan itu dengan tebusan, bagi yang kaya mereka ditebus, sedang bagi yang miskin sebagai tebusannya mereka disuruh mengajar menulis dan membaca pada 10 anak orang islam di madinah.
          • Terjadi perang Bani Qainuqa' hingga balatentara islam sama mengepung serta mengusirnya dari madinah.
          • Qiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka'bah.
          • Umat islam diharuskan puasa Ramadhan.
          • Diwajibkan Zakat Fitrah dan Zakat Harta.
          • Disunatkan Shalat dua hari Raya.
          • Terjadi pula pernikahan antara Ali dengan Fatimah, ketika itu Ali berumur 21 tahun sedang Fatimah berumur 15 tahun.
          • Rasulullah Menikah dengan Aisyah, ketika itu Aisyah baru berumur 9 tahun.
          • Putri Rasulullah bernama Ruqayah Meninggal dunia.
            .:: TAHUN KETIGA HIJRIAH ::.

          • Terjadi perang Ghathafan, Bahran, dan Hamraul Asad, tetapi kesemuanya itu tidak sampai terjadi pertempuran.
          • Terjadi perang Uhud, Orang Quraisy dengan sekutu-sekutunya berjumah 3.000 orang. mereka datang di Uhus akan membalas dendam atas kematian kawan-kawannya dalam perang badar, Rasulullah SAW pun menyiapkan balatentara sebanyak 1.000 Orang. akan tetapi di tengah jalan kembalilah sebanyak 300 orang yang dipimpin olah "Abdullah bin Ubai" sebagai orang-orang Munafiq terhadap Rasulullah. kemudian Rasulullah SAW menyuruh ahli memanah untuk mempertahankan gunung Uhud. dan terjadilah peperangan hingga mereka melarikan diri. pada waktu itu hampir saja kemenangan di tangan orang islam akan tetapi orang-orang ahli memanah itu meninggalkan bukit Uhud, mereka tidak taat terhadap perintah Rasulullah SAW akhirnya balatentara Quraisy yang dipipin oleh " Khalid bin Walid" menyerbu orang-orang islam dari belakang, hingga banyak orang islam yang lari dan terbunuh. korban orang islam berjumlah 70 orang, diantaranya paman nabi bernama Hamzah. pada waktu itu pula seorang yang bernama Ubai bin Khalf hendak membunuh Rasulullah tetapi dengan tangkas beliau mencabut tombak dari salah seorang sahabatnya lalu ditusukkan kepadanya hingga Ubai tewas. dalam seumur hidup Rasulullah Saw beliau tidak pernah membunuh seorang pun kecuali hanya sekali itu saja. dalam perang itu beliau terperosok ke dalam sebuah lubang hingga luka dua lututnya, berdarah mukanya, pecah gigi-gigi serinya dan luka pula pelipisnya. begitu pula pengikutnya yang ikut beliau menderita luka parah.
          • Rasulullah menikahkan putrinya yang bernama Ummi Kultsum dengan Utsman bin Affan sehingga Utsman bin Affan diberi gelar dzunnuraeni (pemilik Dua Cahaya) karena menikah dengan 2 putri Rasulullah setelah Ruqayah meninggal dunia.
          • Rasulullah SAW Menikah dengan Hafshah anak 'Umar bin Khattab dan dengan Zainab anak Khuzainah Al-Hilailiyah.
          • Lahirnya Hasan anak Ali
          • dan Diharamkannya Minuman Keras (Khamar).
           .:: TAHUN KEEMPAT HIJRIAH ::.
          • Terjadi Perang Bani Nadhir ( Banu Nadhir adalah golongan orang Yahudi Madinah yang mengkhianati perjanjiannya). oleh karena itu Rasulullah SAW mengepung dan mengusir mereka dari kota adinah.
          • Terjadi pula Perang Dzatur riqa' tetapi tidak sampai terjadi pertempuran.
          • Turun malaikat Jibril memberi pelajaran shalat Khauf  (Shalat dalam keadaan Takut).
          • Disyari'atkannya kelonggaran bertayamum bagi orang-orang yang Islam yang berperang.
          • Terjadi Perang Badar yang akhir, tetapi juga tidak sampai terjadi pertempuran.
          • meninggalnya Zainab istri Rasulullah SAW dan Abu Salamah anak bibi beliau dan saudara sesusu Rasulullah.
          • Lahirlah Husain anak Ali.
          • Menikahnya Rasulullah SAW dengan Ummi Salamah.
          • Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit belajar tulisan Yahudi.
          .:: TAHUN KELIMA HIJRIAH ::.


                    • Terjadi Perang Dumatul Jandal, tetapi tidak sampai terjadi pertempuran.
                    • Terjadi Perang Banu Musthaliq yang menewaskan 10 orang dari golongan kaum kafir sedangkan yang lain ditawan, diantara tawanan itu terdapatlah seorang yang bernama Juwariyah, anak kepala suku bani Musthaliq. Oleh Rasulullah lalu dinikahi. peristiwa itu menyebabkan kaumnya masuk islam. dalam perang itu Sayyidah 'Aisyah disangka berbuat Jahat dengan Shafwan bin Mu'atthal, Oleh orang-orang munafiq hingga turunlah kabar ketiadaan perbuatan 'Aisyah itu (Ayat Bara'ah) dalam Al-Qur'an.
                    • Terjadi perang Khandaq, karena orang-orang Quraisy bekerjasama dengan orang-orang Arab dan Yahudi, untuk memerangi orang-orang Islam. mereka berjumlah 10.000 orang lelaki. maka orang-orang islam menggali parit di sekeliling kota madinah. terjadilah pengepungan salama 15 hari. kemudian Allah menurunkan angin ribut dan balatentara yang tiada kelihatan (malaikat). hingga mereka semua melarikan diri karena takut.
                    • Terjadi Perang Banu Quraidhah karena mereka sama mengkhianati perjanjiannya dengan Rasulullah SAW hingga orang-orang Islam membunuh mereka, menawa perempuan dan keluarga mereka.
                    • Rasulullah menikah dengan Zainab, sesudah Zaid bin Haritsah menceraikannya. dengan begitu, tidak dibenarkanlah kebiasaan mengambil anak sebagai anak kandung.
                    • Diwajibkan Beribadah Haji.
                    • Turun Ayat Hijab.
                    kejadian Tahun Selanjutnya..... 

                              Rabu, 23 November 2011

                              Congratulation......!!

                              "Selamat kepada Sekolah/Madrasah yang sudah terakreditasi BAN S/M 2011.
                              semoga akreditasi ini dpt menjadikan dorongan menuju pendidikan indonesia yang berkualitas."
                              untuk data HASIL AKREDITASI TAHUN 2011 Klik disini

                              Minggu, 17 Juli 2011

                              LANGKAH-LANGKAH PENDIRIAN DAN PENGELOLAAN TK-TPA.

                              Postingan ini sebagai motivasi diri dan teman-teman yang akhir-akhir ini menyibukkan diri untuk persiapan pengajuan pendirian TKA-TPA. untuk share saya coba browsing dengan om google dan berhasil mengadopsi dari berbagai sumber. berikut hasilnya.

                              TKA-TPA : Kemauan siapa ?
                              1. Sendiri.
                              2. Masyarakat.
                              3. Sekolah.
                              4. Organisasi.
                              5. Person
                              Penjelasan :
                              1. Jika anda sendiri yang mau, maka langkah awalnya sbb :
                              a. Mulailah dari keluarga: anak-anak, kemenakan, adik dll, usahakan paling sedikit 5 anak. Kemudian dikelola sebagaimana sistem TK-TPA .
                              b. Buat target-target yang akan dituju
                              2. Jika masyarakat, yang menghendaki , maka :
                              a. Tawarkan persyaratan-persyaratan (pengelolaan yang Anda miliki) dll, tidak bertentangan dengan Syar’i.
                              b. Gerakkan dan libatkan tokoh-tokoh masyarakat.
                              c. Siapkan sarana dan prasarana yang memadai.
                              d. Ajaklah masyarakat bermusyawarah dan bentuklah secara formal, hubungilah instansi terkait ( Imam desa, KUA, DEPAG, LP3Q DPP, dll ).
                              3. Sekolah.
                              a. Hubungilah guru-guru dan ajaklah kerjasama.
                              b. Mintalah fasilitas yang bisa dimanfaatkan.
                              c. Pilihlah metode yang sesuai.
                              d. Bentuklah secara formal.
                              4. Organisasi
                              a. Konsultasikan dulu dengan Pimpinan organisasi ( atasan ) minta pendapat dan pertimbangannya.
                              b. Berilah batasan sejauh mana bentuk kerjasama agar tidak terjadi tumpang tindih ( tabrakan) jadwal, komando, dan tujuan.

                              Perhatikan Sikon ( Situasi dan kondisi ).

                              1. Kuasai medan dakwah..
                              a. Daerah perkotaan.
                              - Pendidikan yang tinggi.
                              - Pegawai, pedagang, buruh , swasta.
                              - Fasilitasserba ada, ; media elektronik, a tau cetak.
                              - Berpengaruh terhadap akhlak; kasar, keras, suka membangkang, cepat pasrah/ menyerah.
                              b. Daerah pedesaan.
                              - Pendidikan yang rendah.
                              - Tani, peternak.
                              - Pekebun, nelayan.
                              - Fasilitas serba kurang.
                              - Berpengaruh terhadap akhlak; lembut, penurut, hormat dll.
                              Oleh karena itu, seorang Da’i harus pandai menempatkan dirinya, sekaligus mampu mencari solusi yang tepat dan cepat terhadap semua persoalan yang muncul.

                              2. Kuasai cara-cara pengelolaannya/ pendirian TK-TPA.
                              a. Bekalilah diri Anda dengan pengetahuan khusus ( Keahlian ) tentang TK-TPA. Misalnya kursus 1 bulan atau magang atau PPL ke TK-TPA yang sudah mapan, maju; studi banding tentang administrasi, aktivitas, pengelolaan dll.
                              b. Datalah santri yang ada ( minimal 10 santri ).
                              c. Carilah tenaga Pengajar ( dari elemen masyarakat yang mendukung ). Bentuklah kepengurusan, bekali mereka dengan pelatihan ( penataran ) ustadz/ah. Hubungi Tim Penatar LP3Q DPP atau Lembaga sejenisnya.
                              d. Setelah berjalan beberapa saat dan dipandang sudah layak diresmikan, maka kita buatkan acara peresmian ( bisa dirangkaikan dengan penamatan yang pertama / demo kemampuan santri) dan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat setempat.
                              e. Bimbinglah dan arahkan menurut jalurnya masing-masing :
                              - Santri belajar sesuai dengan program, kurikulum; harian, pekanan, semester.
                              - Ustadz/ah atau pengerus, jalinlah kerjasama yang harmonis, rapat harian rutin, pendalaman materi klasikal/ privat, kajian Islam Intensif.
                              - Masyarakat/ orangtua santri :
                              i. Adakan pengajian POS ( persatuan orangtua santri )/ majlis taklim umum sekali sebulan.
                              ii. Bina kerjasama yang baik. Misalnya dengan pelayanan baca tulis Al Qur'an bagi orang dewasa ( Dirosa ).
                              iii. Tingkatkan silaturrohmi dengan orangtua santri atau anggota majlis taklim.
                              f. Tingkatkan dan galilah sumber dana, dengan cara :
                              i. Cari donatur tetap/ tidak tetap.
                              ii. SPP santri ( bisa beras, kelapa, coklat, jagung dll, nanti diuangkan.)
                              iii. Infaq harian santri/ orangtua santri.
                              iv. Depot TK-TPA.
                              v. Usaha-usaha lain ; kalender, stiker, baju seragam santri, bikin buku santri dll.
                              vi. Untuk perkotaan; libatkan para Pembina dalam Les privat baca tulis Al Qur'an dan sebagian uang tranfortnya disisihkan untuk TK-TPA.
                              g. Berilah tunjangan/ santunan kepada para Pembina menurut kadar kemampuan keuangan TK-TPA

                              Tabel Angka Kredit Inpassing Guru Bukan PNS

                              Peraturan Pemerintah  Nomor  41  Tahun  2009  tentang  Tunjangan  Profesi  Guru  dan Dosen,  Tunjangan  Khusus  Guru  dan  Dosen,  serta  Tunjangan  Kehormatan Profesor,  mengamanatkan bahwa guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, baik yang  berstatus pegawai negeri sipil maupun yang bukan pegawai negeri sipil  dan  memenuhi  persyaratan  sesuai  dengan  ketentuan  peraturan perundang-undangan  diberi  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  setiap bulan. Tunjangan profesi dan tunjangan khusus bagi guru pegawai negeri sipil yang menduduki  jabatan  fungsional  guru  diberikan  sebesar 1 (satu)  kali  gaji pokok  pegawai  negeri  sipil  yang  bersangkutan  sesuai  dengan  ketentuan perundang-undangan  setiap  bulan. Sedang  bagi  guru  bukan  pegawai  negeri sipil,  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  diberikan  sesuai  dengan kesetaraan  tingkat,  masa  kerja,  dan  kualifikasi  akademik  yang  berlaku  bagi guru pegawai negeri sipil.
                              Mengingat  kebijakan  pemberian  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus tersebut berlaku  bagi semua guru  yang memenuhi syarat, maka untuk  dapat memberikan  tunjangan  profesi  dan  tunjangan  khusus  kepada  Guru  Bukan Pegawai  Negeri  Sipil  (GBPNS)  yang  telah  memenuhi  persyaratan sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku, perlu dilakukan penyetaraan atau inpassing penetapan jabatan fungsional dan angka kreditnya bagi GBPNS  tersebut. Atas dasar  itu, ditetapkan Peraturan Menteri  Pendidikan    Nasional  (Permendiknas)  Republik  Indonesia Nomor  22  Tahun 2010  sebagai  perubahan    terhadap  Permendiknas    Nomor  47  Tahun  2007 tentang  Penetapan  Inpassing  Jabatan  Fungsional  GBPNS  dan  Angka Kreditnya yang dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Jabatan Fungsional GBPNS dan Angka Kreditnya.
                              Penetapan  jabatan  fungsional  GBPNS  dan  angka  kreditnya,  bukan  hanya untuk memberikan tunjangan profesi/khusus bagi mereka, namun dimaksudkan untuk  pembinaan  dan  perlindungan  serta  tertib  adminsitrasi  guru.  Jabatan fungsional  guru merupakan  jabatan  ahli.
                              Inpassing  Jabatan  Fungsional GBPNS  dan Angka Kreditnya  ditetapkan berdasarkan dua hal, yaitu kualifikasi akademik dan masa kerja.
                              Berikut tabel konversi nilai angka kredit jabatan fungsional GBPNS berdasarkan lampiran Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS.
                              1. Kualifikasi SMA/SPG/SGO/D1/PGSLP/DII/PGSLA/Setara
                              Masa Kerja (th)
                              Angka Kredit
                              Gol.
                              Jabatan
                               0 <MK< 6 25 II a Guru Pratama
                               6 <MK< 10 40 II b Guru Pratama Tk I
                              10 <MK< 14 60 II c Guru Muda
                              14 <MK< 18 80 II d Guru Muda Tk I
                              18 <MK< 22 100 III a Guru Madya
                              22 <MK< 26 150 III b Guru Madya Tk I
                              26 <MK< 30 200 III c Guru Dewasa
                              30 <MK< 34 300 III d Guru Dewasa Tk I
                              MK> 34 400 IV a Guru Pembina
                              2. Kualifikasi Sarjana Muda/D3/Setara
                              Masa Kerja (th)
                              Angka Kredit
                              Gol.
                              Jabatan
                               0 <MK< 6 40 II b Guru Pratama Tk I
                               6 <MK< 10 60 II c Guru Muda
                              10 <MK< 14 80 II d Guru Muda Tk I
                              14 <MK< 18 100 III a Guru Madya
                              18 <MK< 22 150 III b Guru Madya Tk I
                              22 <MK< 26 200 III c Guru Dewasa
                              26 <MK< 30 300 III d Guru Dewasa Tk I
                              30 <MK< 34 400 IV a Guru Pembina
                              MK> 34 -

                              3. Sarjana/D4
                              Masa Kerja (th)
                              Angka Kredit
                              Gol.
                              Jabatan
                               0 <MK< 6 100 III a Guru Madya
                               6 <MK< 10 150 III b Guru Madya Tk I
                              10 <MK< 14 200 III c Guru Dewasa
                              14 <MK< 18 300 III d Guru Dewasa Tk I
                              18 <MK< 22 400 IV a Guru Pembina
                              4. Magister / S2
                              Masa Kerja (th)
                              Angka Kredit
                              Gol.
                              Jabatan
                               0 <MK< 6 150 III b Guru Madya Tk I
                               6 <MK< 10 200 III c Guru Dewasa
                              10 <MK< 14 300 III d Guru Dewasa Tk I
                              14 <MK< 18 400 IV a Guru Pembina
                              5. Doktor / S3
                              Masa Kerja (th)
                              Angka Kredit
                              Gol.
                              Jabatan
                               0 <MK< 6 200 III c Guru Dewasa
                               6 <MK< 10 300 III d Guru Dewasa Tk I
                              10 <MK< 14 400 IV a Guru Pembina
                              Buku Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS
                              Buku pedoman ini memuat panjang lebar tentang inpassing GBPNS mulai dari latar belakang, dasar hukum, tujuan, dan pengertian inpassing.
                              Pada bab pelaksanaan inpassing GBPNS, diuraikan tentang  persyaratan,  prosedur pengusulan, dasar dan tatacara penetapan, jenjang jabatan fungsional,  pejabat yang berwenang menetapkan.
                              Pada lampiran berisi tabel konversi nilai angka kredit, dan 11 contoh format surat antara lain surat kepala sekolah usul inpassing dan lampiran usulan kepala sekolah, serta contoh SK Kemendiknas tenmtang Inpassing GBPNS.
                              Bila berminat memiliki buku pedoman ini, dapat diunduh di sini

                              Download Formulir NISN

                              Ada tiga formulir yang siap diunduh: Formulir Pengajuan NISN Baru, Perbaikan Biodata Siswa, dan Pengajuan Pindah Sekolah.
                              Petunjuk pengisian ketiga jenis formulir tersebut, silakan klik teks berikut:

                              Cara Mendaftar Operator NISN Sekolah

                              Kemendiknas kini tengah giat melakukan pendataan untuk memperoleh Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Ada tiga data yang menjadi prioritasnya: Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) bagi lembaga sekolah/madrasah, Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) bagi ketenagaan, dan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) bagi siswa.

                              Daftar NISN Baru Hanya 1 Menit
                              Untuk mendukung kelancaran pendataan NISN, sekolah perlu segera mendaftarkan operator NISN bagi sekolahnya. Dengan memiliki operator NISN maka sekolah akan memperoleh banyak kemudahan-kemudahan:
                              • Mengelola sendiri NISN sekolah
                              • Mengedit data sekolah, PTK, dan siswa
                              • Mengeluarkan surat validasi mutasi siswa
                              • Operator NISN boleh lebih dari satu
                              • Daftar NISN baru hanya dalam hitungan detik
                              Bila sekolah sudah punya operator maka daftar NISN baru (siswa tunggal atau kolektif) cukup dari sekolah secara online dalam hitungan detik sudah jadi. Tapi, bila belum punya operator NISN, daftarnya dari sekolah ke Dinas Pendidikan Kab/Kota.
                              Kemudahan lain dengan memiliki operator NISN adalah berkaitan dengan mutasi siswa. Bila ada siswa mutasi masuk dan belum punya NISN bukan masalah karena mendaftar NISN baru dalam hitungan detik sudah jadi. Sebaliknya, bila ada siswa mutasi keluar, sekolah tinggal memproses dari sekolah dan terbit “validasi mutasi keluar siswa” dan siswa tidak perlu ke Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk minta surat “validasi”.

                              Cara Mendaftar Operator NISN Sekolah
                              Pendaftaran akun dapodik sebagai operator NISN sekolah hanya dilakukan secara online. Oleh karena itu, sebelum mulai mendaftar, perlu mempersipkan data-data yang diperlukan sesuai dengan formulir pengajuan user. Selain data diri yang sudah ada secara kelembagaan/kedinasan, data tambahan yang harus ada adalah: email sekolah, nomor telepon sekolah, email kepala sekolah, email admin pengelola NISN sekolah.
                              Secara sederhana, langkah pengajuan user operator NISN sbb:
                              1. Melakukan pengajuan akun.
                              2. Mengisi formulir Entri Data Pengajuan User
                              3. Mengunduh dan Mengirim Surat Pengajuan User
                              4. Mengunduh Surat Tanda Bukti Persetujuan Pengajuan User
                              5. Mengelola NISN

                              Penjelasan Langkah Pengajuan Operator NISN
                              Langkah 1: Melakukan pengajuan akun
                              1. Buka alamat  http://nisn.dapodik.org/ajuan.php
                              2. Masukkan NPSN dan tulis kode verifikasi yang ada, kemudian klik ”Cari” (hasilnya, terbuka formulir entri data pengajuan user).

                              Langkah 2: Mengisi formulir Entri Data Pengajuan User( data yang bergaris bawah wajib diisi)
                              Pada langkah ini, mengisi formulir sesuai isian. Formulir ini terdiri dari tiga bagian pokok:
                              Data Sekolah: NPSN, Nama Sekolah, Jenjang, Status, Alamat, Nomor Telepon, Nomor Fax, Email, dan Web Site.
                              Data Kepala Sekolah: Nama Kepsek, Nomor Pegawai (NIP/NUPTK), Jenis Kelamin, Tahun mulai menjabat, Email.
                              Data Admin Sekolah(Penanggtungjawab Teknis): Nama lengkap, Nomor Pegawai (NIP/NUPTK), Jabatan sekolah, Jenis Kelamin, Alamat rumah, Nomor telepon, Nomor hp, Email.
                              Bila pengisian formulir sudah selesai, kemudian klik ”konfirmasi” sebagai pengiriman permaohonan pengajuan user.

                              Langkah 3: Mengunduh dan Mengirim Surat Pengajuan User
                              Buka email sekolah atau email admin sekolah untuk mengunduh surat pengajuan user.
                              • Unduh surat pengajuan user
                              • Cetak surat pengajuan user
                              • Bubuhi tada tangan kepala sekolah dan stempel sekolah
                              • Pindai/scan surat pengajuan user yang sudah ditandatangani dan distempel itu
                              • Kirim file hasil scan surat pengajuan user ke admindapodik@jardiknas.org
                              • ( Tunggu sekitar 2-3 hari dengan cek email untuk melihat ” Surat Tanda Bukti Persetujuan Pengajuan User” dari Dapodik)

                              Langkah 4: Mengunduh Surat Tanda Bukti Persetujuan Pengajuan User
                              Bila surat tanda bukti ini sudah diterima, artinya pengajuan user sudah resmi diterima dan mulai memiliki hak mengelola NISN.
                              Surat tanda bukti ini memuat keterangan nomor User ID dan Password (yang diperlukan untuk login ke dapodik).

                              Langkah 5: Mengelola NISN
                              Untuk mulai mengelola NISN, login dulu ke http://operator.dapodik.org, kemudian masukkan user ID dan password.
                              Selamat mendaftar dan mengelola NISN semoga tugas menjadi lebih mudah.

                              Bila sudah siap mendaftar, sebagai langkah 1, silakan klik gambar berikut:

                              Data NUPTK

                              Data NUPTK baru 2010, 2011, 2012, . . . dapat dengan mudah dilihat. Dengan program nuptkwebbrowser.exe, status usulan baru NUPTK pun dapat dipantau: sudah masuk atau belum dan sudah diproses atau belum.
                              Data NUPTK yang selama ini dipublikasikan melalui www.nuptk.info sudah ditutup dan dialihkan ke situs PMPTK Kementerian Diknas dengan program nuptkwebbrowser.exe. Dengan program ini usulan baru NUPTK dapat dipantau.
                              Beberapa kelebihan program ini, antara lain:
                              • tidak perlu menginstal
                              • dapat menampilkan data PTK per sekolah (sebelumnya, data yang dipublikasikan melalui www.nuptk.info adalah per kab/kota dan harus diunduh)
                              • data dilihat langsung (tanpa melalui proses mengunduh)
                              • data usulan baru dapat dipantau
                              • menampilkan nomor Peg_ID
                              Singkatnya, untuk melihat data NUPTK,  saat ini,  hanya satu pintu, yakni melalui program nuptkwebbrowser.exe
                              Berikut contoh tampilan data NUPTK suatu sekolah yang dilihat menggunakan program nuptkwebbrowser.exe. Pada tampilan gambar, tampak status diterima, ditolak, atau ditunda beserta keterangan mengapa ditolak.
                              Bila berminat memiliki program dan panduan, silakan klik tautan berikut:

                              Syarat impassing dan prosedurnya

                              Inpassing  Guru  Bukan  Pegawai  Negeri  Sipil  adalah  proses penyesuaian kepangkatan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dengan kepangkatan Guru Pegawai Negeri Sipil.
                              Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil  dan  Angka  Kreditnya  ditetapkan  berdasarkan  dua hal, yaitu
                              a.  Kualifikasi akademik
                              b.  Masa  kerja,  dihitung mulai  dari  pengangkatan  atau penugasan sebagai Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil pada satuan pendidikan.
                              1. Persyaratan
                                Penetapan jabatan fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan angka kreditnya, bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekailgus demi tertib administrasi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil. Atas dasar itu, Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil yang dapat ditetapkan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya adalah:
                                1. Guru tetap yang mengajar pada satuan pendidikan, TK/TKLB/RA/BA atau yang sederajat; SD/SDLB/MI atau yang sederajat; SMP/SMPLB/MTs atau yang sederajat; dan SMA/SMK/SMALB/MA/MAK atau yang sederajat, yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Dinas Pendidikan Provinsi setempat. Guru dimaksud adalah guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah dan yayasan/masyarakat penyelenggara pendidikan.
                                2. Kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV
                                3. Masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut pada satmingkal yang sama.
                                4. Usia setinggi-tingginya 59 tahun pada saat diusulkan.
                                5. Telah memiliki NUPTK yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.
                                6. Melampirkan syarat-syarat administratif :
                                  1. Salinan/fotokopi sah surat keputusan tentang pengangkatan atau penugasan sebagai guru tetap yang ditandatangani oleh yayasan/penyelenggara satuan pendidikan yang mempunyai izin operasional tempat satuan administrasi pangkal (satmingkal) guru yang bersangkutan.
                                  2. Salinan atau fotokopi ijazah terakhir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku (Perguruan Tinggi/Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menerbitkan ijasah dimaksud).
                                  3. Surat keterangan asli dari kepala sekolah/madrasah bahwa yang bersangkutan melakukan kegiatan proses pembelajaran/pembimbingan pada satmingkal guru yang bersangkutan.
                              2. Prosedur Pengusulan
                                Prosedur pengusulan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya adalah sebagai berikut:
                                1. Kepala sekolah/madrasah jenjang TK/RA/BA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK atau yang sederajat, meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan atas persetujuan yayasan/penyelenggara pendidikan, dan mengusulkannya ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dengan menggunakan Format 1 (Lampiran 1).
                                2. Kepala sekolah/madrasah jenjang TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB atau yang sederajat meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil atas persetujuan yayasan/penyelenggara pendidikan, dan mengusulkannya ke Dinas Pendidikan Provinsi, dengan menggunakan Format 1 (Lampiran 1).
                                3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh kepala sekolah seperti tersebut pada butir 1 (satu) dan mengusulkannya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan u.b. Direktur Profesi Pendidik dengan menggunakan Format 2 (Lampiran 2).
                                4. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh kepala sekolah seperti tersebut pada butir 2 (dua) dan mengusulkannya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan u.b. Direktur Profesi Pendidik dengan menggunakan Format 2 (Lampiran 2).
                                5. Direktorat Profesi Pendidik meneliti dan menilai kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik yang diusulkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau Dinas Pendidikan Provinsi. Selanjutnya Direktorat Profesi berdasarkan hasil penilaian mengusulkan ke Menteri Pendidikan Nasional melalui Kepala Biro Kepegawaian untuk ditetapkan Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya, dengan menggunakan Format 3 (Lampiran 3).
                                6. Kepala Biro Kepegawaian meneliti hasil penilaian kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik usulan penetapan inpassing dari Direktur Profesi Pendidik untuk ditetapkan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan Angka Kreditnya, dengan menggunakan Format 4 (Lampiran 4).
                              Contoh Format Usulan
                              Format usulan mulai dari tingkat sekolah (format 1) dan format lainnya dapat dilihat dalam buku Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS yang bisa diunduh di bawah.
                              Batas Penetapan SK Inpassing 30 Desember 2011
                              Sesuai Permendiknas nomor 22/2010, batas akhir penetapan SK Inpassing adalah 30 Desember 2011. Oleh karena itu, bagi yang belum pernah mengusulkan agar segera mengusulkan dengan syarat dan prosedur seperti penjelasan di atas.
                              C. Alamat Pengiriman
                              Ditjen PMPTK
                              U,p. Direktur Profesi Pendidik
                              Kompleks Depdiknas Gd. D Lt. 14
                              Jalan Pintu 1 Senayan Jakarta Pusat
                              Tlp/fax: 021-57974124/57974126
                              Tunjangan Profesi bagi Guru Bukan PNS Rp1.500.000,00/Bulan

                              Guru Bukan PNS (GBNS) yang telah lulus sertifikasi dan memiliki sertifikat pnedidik profesional berhak atas tunjangan profesi setiap bulan. Berdasarkan Permendiknas 72/2008 tentang Tunjangan Profesi GTT Bukan PNS, dalam pasal 2 disebutkan, besar tunjangan GTT yang belum memiliki jabatan fungsional guru adalh Rp1.500.000 setiap bulan sampai dengan guru yang bersangkutan memiliki jabatan fungsional guru.
                              Yang dimaksud “jabatan fungsional guru” adalah telah memiliki SK Inpassing. Bagi GTT yang telah memiliki sertifikat pendidikan dan memiliki SK Inpassing maka besarnya tunjangan setiap bulan adalah sebesar gaji pokok golongan yang tertulis pada SK Inpassing. (Lihat juga, Tabel Angka Kredit Inpassing)

                              • Dokumen untuk diunduh

                              Pedoman Penetapan Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS

                              Permendiknas 22/2010: Penetapan Inpassing Jabatan Fungsional Guru Bukan PNS

                              Permendiknas 72/2008: Tunjangan Profesi GTT Bukan PNS

                              Jumat, 03 Juni 2011

                              Permendiknas Nomor 2 tahun 2010 tentang RENSTRA KEMENDIKNAS TAHUN 2010 – 2014

                              salaam...
                              untuk rekan guru silahkan download Disini.
                              RENSTRA KEMENDIKNAS 2010-2014

                              KONSEP PERENCANAAN, PENDEKATAN DAN MODEL PERENCANAAN PENDIDIKAN

                              A. Pendahuluan
                              Bagi setiap pendidik, baik yang berstatus sebagai kepala sekolah maupun sebagai guru mata pelajaran dituntut untuk memahami  konsep-konsep dasar tentang perencanaan pendidikan, pendekatan dalam perencanaan pendidikan dan beragam model perencanaan pendidikan. Kualitas pemahaman kepala sekolah terhadap ketiga konsep tersebut akan berpengaruh positif terhadap pelaksanaan manajemen pendidikan di setiap satuan pendidikan. Demikian juga bagi guru, kualitas pemahaman terhadap ketiga konsep tersebut akan mendukung pelaksanaan empat kompetensi professional guru dalam proses layanan pendidikan kepada peserta didik.
                              Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kajian tentang konsep perencanaan, pendekatan dan model perencanaan pendidikan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas atau kompleks. Oleh karena itu kajian singkat berikut ini lebih menekankan pada  tiga aspek, yaitu: (1) beberapa konsep tentang perencanaan pendidikan; (2) pendekatan perencanaan pendidikan; dan (3) beragam metode dan model perencanaan pendidikan. Sedangkan tujuan yang hendak diraih dari kajian singkat ini adalah diharapkan kajian singkat ini dapat memberikan informasi awal bagi para peminat kajian tentang perencanaan pendidikan, dan terus termotivasi untuk meningkatkan pemahamanan lebih lanjut pada sumber-sumber ilmiah lainnya.

                              B. Beberapa Konsep Tentang Perencanaan Pendidikan
                              Ada tujuh konsep penting yang perlu dipahami, dalam mengawali kajian atau pembahasan tentang konsep perencanan pendidikan, antara lain: (1) pengertian perencanaan pendidikan; (2) tujuan perencanaan pendidikan; (3) manfaat perencanaan pendidikan; (4) ruang lingkup perencanaan pendidikan; (5) karakteristik perencanaan pendidikan; (6) prinsip-prinsip perencanaan pendidikan; dan (7) proses atau tahapan penyusunan perencanaan pendidikan.  Berikut ini akan dijelaskan secara singkat ketujuh  konsep tersebut di atas.
                              1. 1. Pengertian perencanaan pendidikan
                              Pengertian perencanaan, dan pengertian perencanaan pendidikan. Ada beragam pengertian perencanaan  yang telah dikemukakan oleh para ahli, antara lain menurut: (1) Bintoro Tjokroaminoto, perencanaan adalah ‘proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu; (2) Prajudi Atmosudirdjo, perencanaan adalah ‘perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, siapa yang melakukan, bilamana, dimana dan bagaimana cara melakukannya; (3) Handoko, perencanaan adalah  meliputi: (a) pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi; dan (b) penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan; (4) Husaini Usman, perencanaan  adalah kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan; (5) Coombs, perencanaan pendidikan adalah ‘suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakatnya; dan (6) Sa’ud dan Makmun, perencanaan pendidikan adalah ‘suatu kegiatan melihat masa depan dalam hal menentukan kebijakan, prioritas dan biaya pendidikan dengan memprioritaskan kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi, sosial dan politik untuk mengembangkan sistem pendidikan negara dan pesera didik yang dilayani oleh sistem tersebut (Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008).
                              Dari beberapa definisi tentang perencanaan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa  konsep yang ada dalam pengertian perencanaan pendidikan adalah: (1) suatu rumusan rancangan  kegiatan yang ditetapkan berdasarkan visi, misi dan tujuan pendidikan; (2) memuat langkah atau prosedur dalam  proses kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan; (3) merupakan alat kontrol pengendalian perilaku warga satuan pendidikan (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite sekolah); (4) memuat rumusan hasil yang ingin dicapai dalam proses layanan pendidikan kepada peserta didik; dan (5) menyangkut masa depan proses pengembangan dan pembangunan pendidikan dalam waktu tertentu, yang lebih berkualitas.
                              1. 2. Tujuan Perencanaan Pendidikan
                              Tujuan perencanaan pendidikan. Ada beberapa tujuan perlunya penyusunan suatu perencanaan pendidikan, antara lain: (1) untuk standar pengawasan pola perilaku pelaksana pendidikan, yaitu untuk mencocokkan antara pelaksanaan atau tindakan pemimpin dan anggota organisasi pendidikan dengan program atau perencanaan yang telah disusun; (2) untuk mengetahui kapan pelaksanaan perencanaan pendidikan itu diberlakukan dan bagaimana proses penyelesaian suatu kegiatan layanan pendidikan; (3) untuk mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) dalam pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan, baik aspek kualitas maupun kuantitasnya, dan baik menyangkut aspek akademik-nonakademik; (4) untuk mewujudkan proses kegiatan dalam pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan; (5) untuk meminimalkan terjadinya beragam kegiatan yang tidak produktif dan tidak efisien, baik dari segi biaya, tenaga dan waktu selama proses layanan pendidikan; (6) untuk memberikan gambaran secara menyeluruh (integral) dan khusus (spefisik) tentang jenis kegiatan atau pekerjaan bidang pendidikan yang harus dilakukan; (7) untuk menyerasikan atau memadukan beberapa sub pekerjaan dalam suatu organisasi pendidikan sebagai ‘suatu sistem’; (8) untuk mengetahui beragam peluang, hambatan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi organisasi pendidikan; dan (9) untuk mengarahkan proses  pencapaikan tujuan pendidikan (Dahana, OP and Bhatnagar, OP. 1980; Banghart, F.W and Trull, A. 1990; Sagala, S. 2009).
                              1. 3. Manfaat perencanaan pendidikan
                              Manfaat perencanaan pendidikan. Menurut para ahli, ada beberapa manfaat dari suatu perencanaan pendidikan yang disusun dengan baik bagi kehidupan kelembagaan, antara lain: (1) dapat digunakan sebagai standar pelaksanaan dan pengawasan proses aktivitas atau pekerjaan pemimpin dan anggota dalam suatu lembaga pendidikan; (2) dapat dijadikan sebagai media pemilihan berbagai alternatif langkah pekerjaan atau strategi penyelesaian yang terbaik bagi upaya pencapaian tujuan pendidikan; (3) dapat bermanfaat dalam penyusunan skala prioritas kelembagaan baik yang menyangkut sasaran yang akan dicapai maupun proses kegiatan layanan pendidikan; (4) dapat mengefisiensikan dan mengefektifkan pemanfaatan beragam sumber daya organisasi atau lembaga pendidikan; (5) dapat membantu pimpinan dan para anggota (warga sekolah) dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan atau dinamika perubahan sosial-budaya; (6) dapat dijadikan sebagai media atau alat  untuk memudahkan dalam berkoordinasi dengan berbagai pihak atau lembaga pendidikan yang terkait, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan; (7) dapat dijadikan sebagai media untuk meminimalkan pekerjaan yang tidak efisien atau tidak pasti; dan (8) dapat dijadikan sebagai alat dalam mengevaluasi pencapaian tujuan proses layanan pendidikan (Depdiknas. 1997; Soenarya, E. 2000; Depdiknas, 2001).
                              1. 4. Ruang lingkup perencanaan pendidikan
                              Ruang lingkup perencanaan pendidikan mempunyai jangkauan yang cukup luas, dan  dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain:
                              1. Ditinjau dari aspek spasialnya, yaitu perencanaan pendidikan yang memiliki karakter yang terkait dengan ruang, tempat atau batasan wilayah. Perencanaan ini dapat terbagi menjadi: (1) perencanaan pendidikan nasional, yaitu mencakup seluruh proses usaha layanan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi seluruh jenjang pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, yang diatur dalam sistem pendidikan nasional (sispenas) melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional; (2) perencanaan pendidikan regional, yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat dan diberlakukan dalam wilayah regional tertentu, misalnya perencanaan pengembangan layanan pendidikan tingkat Propinsi dan Kabupaten/ Kota, yang menyangut seluruh jenis layanan pendidikan di semua jenjang untuk daerah atau propinsi tertentu; (3) perencanaan pendidikan kelembagaan, yaitu perencanaan pendidikan yang mencakup satu institusi atau lembaga pendidikan tertentu, misalnya perencanaan pengembangan layanan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ‘Mandiri’ kota ‘Maju’ tahun 2010, perencanaan Universitas ‘Citra Bangsa’, dan sejenisnya.
                              b.  Dintinjau dari aspek sifat dan karakteristik modelnya, dapat dibagi menjadi: (1) perencanaan pendidikan terpadu (integrated educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang mencakup seluruh aspek yang terkait dengan proses pembangunan pendidikan yang esensial (mendasar), dalam koridor perencanaan pembangunan nasional, dalam hal ini perencanaan pendidikan ada keterpaduan atau keterkaitan secara sistemik dengan perencanaan pembangunan bidang ekonomi, politik, hukum dan sebagainya; (2) perencanaan pendidikan komprehensif (comprehension educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun secara sistematik, rasional, objektif yang menyangkut keseluruhan konsep penting dalam layanan pendidikan, sehingga perencanaan itu memberikan suatu pemahaman yang lengkap atau sempurna tentang ‘apa’ dan ‘bagaimana’ memberikan layanan pendidikan yang berkualitas; (3) perencanaan pendidikan strategik (strategic educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang mengandung pokok-pokok perencanaan untuk menjawab persoalan atau opini, atau isu mutakhir yang dihadapi oleh dunia pendidikan, misalnya, persoalan yang dihadapi dunia pendidikan sekarang adalah masalah ‘tranformasi teknologi’, atau masalah ‘rendahnya kualitas guru’, atau masalah ‘keterkaitan antara dunia usaha dengan output lulusan’, dan sebagainya. Jadi, perencanaan ini menyangkut beragam strategi untuk menghadapi persoalan yang muncul.
                              1. Ditinjau dari aspek waktunya. Perencanaan pendidikan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: (1) perencanaan pendidikan jangka panjang (long term educational planning), yaitu  perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun ke atas, isi perencanaan jangka panjang ini belum ditampilkan sasaran yang bersifat kuantitatif, melainkan dalam bentuk proyeksi atau perspektif atas keadaan ideal yang diinginkan dalam pembangunan pendidikan. Contoh, program pendidikan nasional dalam sistem pendidikan nasional; (2) perencanaan pendidikan jangka menengah (medium term educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu antara tiga sampai delapan tahun (perencanaan untuk empat atau lima tahun atau satu periode kepemimpinan). Perencanaan jangka menengah merupakan penjabaran lebih kongkrit dari perencanaan jangka panjang, yang sudah merumuskan sasaran atau tujuan yang secara kuantitatif akan dicapai; dan (3) perencanaan pendidikan jangka pendek (short term educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu maksimal satu tahun. Perencanaan ini sering disebut perencanaan operasional tahunan (annual operational planning), yang memuat langkah-langkah strategis dan operasional sehari-hari, yang merupakan penjabaran lebih rinci dan aplikatif dari perencanaan jangka memengah.
                              d.  Ditinjau dari aspek tingkatan teknis perencanaan. Perencanaan ini dibedakan menjadi: (1) perencanaan pendidikan makro, yaitu perencanaan pendidikan yang bersifat nasional atau sering disebut dengan perencanaan pendidikan nasional, yang berlaku di seluruh negara kesatuan RI dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Perencanaan pendidikan makro ini disebut juga dengan ‘sistem pendidikan nasional’ (Sispenas); (2) perencanaan pendidikan mikro, yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dan disesuaikan dengan kondisi otonomi daerah masing-masing. Dalam perencanaan pendidikan mikro, secara teknis perlu memperhatikan: (a) ketentuan/ standar; (b) kondisi geografis dan demografis; dan (c) infrastruktur yang ada di daerah, sedangkan secara non teknis perlu memperhatikan: (a) aspirasi dan peran serta masyarakat terhadap pendidikan; (b) kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik dan kamanan daerah; (3) perencanaan pendidikan sektoral, yaitu kumpulan program atau kegiatan pendidikan yang menekankan pada sektor tertentu, namun tetap ada keterkaitan dengan sektor lainnya; (4) perencanaan pendidikan kawasan, yaitu perencanaan pendidikan yang memperhatikan kawasan lingkungan tertentu sebagai pusat kegiatan pendidikan, misalnya perencanaan pendidikan kawasan pesisir, kawasan pinggiran kota; (5) perencanaan pendidikan proyek, yaitu perencanaan operasional yang menyangkut implementasi kebijakan untuk mencapai tujuan, misalnya perencanaan proyek unik sekolah baru SMK.
                              e.  Ditinjau dari aspek jenis perencanaan. Perencanaan pendidikan ini dibedakan menjadi: (1)   perencanaan pendidikan dari atas ke bawah (top down educational planning), perencanaan ini sering disebut juga perencanaan pendidikan makro atau perencanaan pendidikan nasional; (2) perencanaan pendidikan dari bawah ke atas (bottom up  educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat oleh tenaga perencana dari tingkat bawah kemudian disampaikan ke pusat, misalnya perencanaan yang dibuat oleh guru, kepala sekolah, Dinas Pendidikan kemudian disampaikan ke Kementrian Pendidikan Nasional; (3) perencanaan pendidikan menyerong dan menyamping (diagonal educational planning), perencanaan ini sering disebut perencanaan sektoral, yaitu perencanaan yang melibatkan kerjasama antar departemen atau lembaga, misalnya, lembaga Kementrian Pendidikan Nasional dengan Bappeda Propinsi; (4) perencanaan pendidikan mendatar (horizontal educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat dengan menjalin kerjasama antar lembaga atau departemen yang sederajat, misalnya perencanaan pendidikan antara kementrian pendidikan dan kementrian agama dan kementrian sosial; (5) perencanaan pendidikan menggelinding (rolling educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dalam bentuk perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang; (6) perencanaan pendidikan gabungan atas ke bawah dan bawah ke atas (top down and bottom up  educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang mengintegrasikan atau mengakomodasi kepentingan pusat dan daerah (lokal) (Oliver, Paul, ed. 1996; Usman, H. 2008).
                              1. 5. Karakteristik perencanaan pendidikan
                              Karakteristik perencanaan pendidikan. Berdasarkan beberapa pengertian, tujuan, manfaat, dan ruang lingkup perencanaan pendidikan tersebut di atas, maka ciri-ciri (karakteristik) suatu perencanaan pendidikan antara lain, perencanaan pendidikan harus: (1) berorientasi pada visi, misi kelembagaan yang akan diwujudkan; (2) mempunyai tahapan program jangka waktu tertentu (jangka pendek, menengah dan panjang) yang akan dicapai secara berkesinambungan; (3) mengutamakan nilai-nilai manusiawi, kerena pendidikan itu membangun manusia yang berkualitas, yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya; (4) memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik secara maksimal; (5) komprehensif dan sistematis dalam arti tidak praktikal atau segmentasi tetapi menyeluruh, terpadu (integral) dan disusun secara logis, rasional serta mencakup berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan; (6) diorientasikan untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yang sanggup mengisi berbagai sektor pembangunan; (7) dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis; (8)  menggunakan sumber daya (resources) internal dan eksternal secermat mungkin; (9) berorientasi kepada masa datang, karena pendidikan adalah proses jangka panjang dan jauh untuk menghadapi berbagai persoalan di masa depan; (10) responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di masyarakat dan bersifat dinamik; dan (11) merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan, sehingga proses  pembaharuan pendidikan terus berlangsung dengan baik  (Banghart, F.W and Trull, A. 1990; Tilaar.H.A.R. 1998; Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007).
                              1. 6. Prinsip-prinsip perencanaan pendidikan
                              Prinsip-prinsip perencanaan pendidikan. Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain:
                              1. Prinsip interdisipliner, yaitu menyangkut berbagai bidang keilmuan atau beragam kehidupan. Hal ini penting karena hakikat layanan pendidikan kepada peserta didik harus menyangkut berbagai jenis pengetahuan, beragam ketrampilan dan nilai-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.
                              2. Prinsip fleksibel, yaitu bersifat lentur, dinamik dan responsif terhadap perkembangan atau perubahan kehidupan di masyarakat. Hal ini penting, karena hakikat layanan pendidikan kepada peserta didik adalah menyiapkan siswa untuk mampu menghadapi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan beragam tantangan kehidupan terkini.
                              3. Prinsip efektifitas-efisiensi, artinya dalam penyusunan perencanaan pendidikan didasarkan pada perhitungan sumber daya yang ada secara cermat dan matang, sehingga perencanaan itu ‘berhasil guna’ dan ‘bernilai guna’ dalam pencapaian tujuan pendidikan.
                              4. Prinsip progress of change, yaitu terus mendorong dan memberi peluang kepada semua warga sekolah untuk berkarya dan bergerak maju ke depan dengan beragam pembaharuan layanan pendidikan yang lebih berkualitas, sesuai dengan peranan masing-masing.
                              5. Prinsip objektif, rasional dan sistematis, artinya perencanaan pendidikan harus disusun berdasarkan data yang ada, berdasarkan analisa kebutuhan dan kemanfaatan layanan pendidikan secara rasional (memungkinkan untuk diwujudkan secara nyata), dan mempunyai sistematika dan tahapan pencapaian program secara jelas dan berkesinambungan.
                              6. Prinsip kooperatif-komprehensif, artinya  perencanaan yang disusun mampu memotivasi dan membangun mentalitas semua warga sekolah dalam bekerja sebagai suatu tim (team work) yang baik. Disamping itu perencanaan yang disusun harus  mencakup seluruh aspek esensial (mendasar) tentang layanan pendidikan akademik dan non akademik setiap peserta didik.
                              7. Prinsip human resources development, artinya perencanaan pendidikan harus disusun sebaik mungkin dan mampu menjadi acuan dalam pengembangan sumber daya manusia secara maksimal dalam mensukseskan program pembangunan pendidikan. Layanan pendidikan pada peserta didik harus betul-betul mampu membangun individu yang unggul baik dari aspek intelektual (penguasaan science and technology), aspek emosional (kepribadian atau akhlak), dan aspek spiritual (keimanan dan ketakwaan) , atau disebut IESQ yang unggul (Dahana,  and Bhatnagar, 1980; Banghart, F.W and Trull, A. 1990; Langgulung, H., 1992).
                              8. 7. Proses atau tahapan penyusunan perencanaan pendidikan
                              Proses atau tahapan penyusunan perencanaan pendidikan. Menurut Banghart and Trull dalam Sa’ud (2007) ada beberapa tahapan yang semestinya dilalui dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain:
                              1. Tahap need assessment, yaitu melakukan kajian terhadap beragam kebutuhan atau taksiran yang diperlukan dalam proses pembangunan atau pelayanan pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Kajian awal ini harus cermat, karena fungsi kajian akan memberikan masukan tentang: (a) pencapaian program sebelumnya; (b) sumber daya apa yang tersedia, dan (c) apa yang akan dilakukan dan bagaimana tantangan ke depan yang akan dihadapi.
                              2. Tahap formulation of goals and objective, yaitu perumusan tujuan dan sasaran perencanaan yang hendak dicapai. Perumusan tujuan perencanaan pendidikan harus berdasarkan pada visi, misi dan hasil kajian awal tentang beragam kebutuhan atau taksiran (assessment) layanan pendidikan yang diperlukan.
                              3. Tahap policy and priority setting, yaitu merancang tentang rumusan prioritas kebijakan apa yang akan dilaksanakan dalam layanan pendidikan. Rumusan prioritas kebijakan ini harus dijabarkan kedalam strategi dasar layanan pendidikan yang jelas, agar memudahkan dalam pencapaian tujuan.
                              4. Tahap program and project formulation, yaitu rumusan program dan proyek pelaksanaan kegiatan operasional perencanaan pendidikan, menyangkut layanan pedidikan pada aspek akademik dan non akademik.
                              5. Tahap feasibility testing, yaitu dilakukan uji kelayakan tentang beragam sumber daya (sumber daya internal/ eksternal; atau sumber daya manusia/ material). Apabila perencanaan disusun berdasarkan sumber daya yang tersedia secara cermat dan akurat, akan menghasilkan tingkat kelayakan rencana pendidikan yang baik.
                              6. Tahap plan implementation, yaitu tahap pelaksanaan perencanaan pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Keberhasilan tahap ini sangat ditentukan oleh: (a) kualitas sumber daya manusianya (kepala sekolah, guru, komite sekolah, karyawan, dan siswa); (b) iklim atau pola kerjasama antar unsur dalam satuan pendidikan sebagai suatu tim kerja (team work) yang handal; dan (c) kontrol atau pengawasan dan pengendalian kegiatan selama proses pelaksanaan atau implementasi program layanan pendidikan.
                              7. Tahap evaluation and revision for future plan, yaitu kegiatan untuk menilai (mengevaluasi) tingkat keberhasilan pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan, sebagai feedback (masukan atau umpan balik), selanjutnya dilakukan revisi program untuk rencana layanan pendidikan berikutnya yang lebih baik.
                              Merujuk pada uraian dari pengertian perencanaan pendidikan sampai tahapan dalam penyusunan perencanaan pendidikan tersebut di atas, menunjukkan bahwa kedudukan perencanaan pendidikan dalam proses layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah sangat penting, karena dengan adanya perencanaan pendidikan yang baik dapat:
                              1. Meningkatkan kualitas kegiatan atau aktivitas layanan pendidikan anak secara maksimal, baik menyangkut aspek akademik atau non akademiknya. Hal ini disebabkan seluruh aktivitas warga sekolah harus berdasarkan pada program yang telah disusun dengan baik dalam suatu perencanaan pendidikan secara sistematik dan integral.
                              2. Mengetahui beberapa sumber daya internal dan eksternal yang dimiliki untuk dimanfaatkan secara maksimal, dan juga mengetahui beberapa kendala, hambatan dan tantangan yang akan dihadapi dalam upaya pencapaian tujuan. Hal ini disebabkan, suatu perencanaan pendidikan yang baik pasti akan memuat tentang beberapa peluang dalam mencapai tujuan dan prediksi tantangan atau hambatan yang akan muncul, serta strategi yang harus dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut.
                              3. Memberi peluang pada setiap warga sekolah dalam meningkatkan beragam kemampuan, keahlian atau  ketrampilan secara maksimal, dalam rangka mewujudkan tujuan  layanan  pendidikan.
                              4. Memberikan kesempatan bagi pelaksana program untuk memilih beberapa alternatif pilihan tentang metode atau strategi atau pendekatan yang tepat dalam pelaksanaan perencanaan pendidikan, agar efektif dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.
                              5. Memudahkan dalam pencapaian tujuan pendidikan, karena perencanaan pendidikan yang baik selalu dirancang dengan tahapan-tahapan pelaksanaan program layanan pendidikan (jangka pendek, menengah dan panjang), disamping itu telah disusun skala prioritas sasaran tujuan yang akan dicapai.
                              6. Memudahkan dalam melakukan evaluasi tentang seberapa besar pencapaian tujuan layanan pendidikan yang telah diraih, karena dalam perencanaan pendidikan yang baik selalu merumuskan indikator-indikator pencapaian tujuan dan instrumen apa yang dipakai dalam mengukur keberhasilan dalam kegiatan untuk mencapai tujuan.
                              7. Memudahkan dalam melakukan revisi program layanan pendidikan dan proses penyusunan perencanaan pendidikan berikutnya, sesuai dengan dinamika dan perkembangan  kehidupan sosial-budaya (Banghart, F.W and Trull, A. 1990; Tilaar.H.A.R. 1998; Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007).
                              B. Pendekatan Perencanaan Pendidikan
                              Menurut para ahli, ada beragam pendekatan perencanaan pendidikan, yaitu: pendekatan kebutuhan sosial (social demand approach); pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach); pendekatan untung rugi (cost and benefit approach); dan pendekatan keefektifan biaya (cost effectiveness approach). Berikut ini akan dijelaskan secara singkat keempat pendekatan perencanan pendidikan tersebut
                              1. 1. Pendekatan kebutuhan sosial
                              Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan kebutuhan sosial, oleh para ahli disebut pendekatan yang bersifat tradisional, karena fokus atau tujuan yang hendak dicapai dalam pendekatan kebutuhan sosial ini lebih menekankan pada: (1) tercapainya pemenuhan kebutuhan atau tuntutan seluruh individu terhadap layanan pendidikan dasar; (2) pemberian layanan pembelajaran untuk membebaskan populasi usia sekolah dari tuna aksara (buta huruf); dan (3) pemberian layanan pendidikan untuk membebaskan rakyat dari rasa ketakutan dari penjajahan, dari kebodohan dan dari kemiskinan. Oleh karena itu pendekatan kebutuhan sosial ini biasanya dilaksanakan  pada negara-negara yang baru meraih kemerdekaan dari penjajahan, dengan kondisi masyarakat pribumi yang terbelakang pendidikannya dan kondisi sosial ekonominya.
                              Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang perencanaan pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan penduduknya; (2)  melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis persentase penduduk yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas) peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, misalnya kenaikan kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis tentang minat atau keinginan warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan di sekolah; (5) melakukan analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang dibutuhkan, dan dapat difungsikan secara maksimal dalam proses layanan pendidikan; dan (6) melakukan analisis tentang keterkaitan antara output satuan pendidikan dengan tuntutan masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat (Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008).
                              Ada beberapa kelebihan dan kekurangan penggunaan pendekatan kebutuhan sosial dalam perencanaan pendidikan. Diantara sisi positif pendekatan ini antara lain: (1) pendekatan ini  lebih cocok untuk diterapkan pada masyarakat atau negara yang baru merdeka dengan kondisi kebutuhan sosial, khususnya layanan pendidikan masih sangat rendah atau masih banyak yang buta huruf; dan (2) pendekatan ini akan lebih cepat dalam memberikan pemerataan layanan pendidikan dasar yang dibutuhkan pada warga masyarakat, karena keterbelakangan di bidang pendidikan akibat penjajahan, sehingga layanan pendidikan yang diberikan langsung bersentuhan dengan kebutuhan sosial yang mendasar yang dirasakan oleh masyarakat.  Sedangkan sisi kelemahan pendekatan kebutuhan sosial ini antara lain: (1) pendekatan ini cederung hanya untuk menjawab persoalan yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu, yaitu pemenuhan kebutuhan atau tuntutan layanan pendidikan dasar sebesar-besanya, sehingga mengabaikan pertimbangan efisiensi pembiayaan pendidikan; (2) pendekatan ini lebih menekankan pada aspek kuantitas (jumlah yang terlayani sebanyak-banyaknya), sehingga kurang memperhatikan kualitas dan efektivitas pendidikan, oleh karena itu pendekatan ini terkesan lebih boros; (3) pendekatan ini mengabaikan ciri-ciri dan pola kebutuhan man power yang diperlukan di sektor kehidupan ekonomi, dengan demikian hasil atau output pendidikan cenderung kurang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini; dan (4) pendekatan ini lebih menekankan pada aspek pemerataan pendidikan (dimensi kuantitatif) dan kurang mementingkan aspek kualitatif. Disamping itu pendekatan ini kurang memberikan jawaban yang komprehensif dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, karena lebih menekankan pada aspek pemenuhan kebutuhan sosial, sementara aspek atau bidang kehidupan yang lain kurang diperhatikan.
                              1. 2. Pendekatan ketenagakerjaan
                              Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan ini lebih mengutamakan keterkaitan antara output (lulusan) layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan dengan tuntutan atau keterserapan akan kebutuhan tenaga kerja di masyarakat. Apabila pendekatan ini dipakai oleh para penyusun perencanaan pendidikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: (1) melakukan kajian atau analisis tentang beragam kebutuhan yang diperlukan oleh dunia kerja yang ada di masyarakat secermat mungkin; (2) melakukan kajian atau analisis tentang beragam bekal pengetahuan dan ketrampilan apa yang perlu dimiliki oleh peserta didik agar mereka mampu menyesuaikan diri secara cepat (adaptif) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di dunia kerja; dan (3) mengkaji atau menganalisis tentang sistem layanan pendidikan yang terbaik dan mampu memberikan bekal yang cukup bagi siswa untuk terjun di dunia kerja, oleh karena itu perlu dilakukan analisis peluang kerja dan menjalin kerjasama antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri (link and match).
                              Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama, beberapa kebaikan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain: (1) proses pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan mempunyai aspek korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang dibutuhkan masyarakat; dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan yang erat antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu sangat positif untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia industri-usaha.
                              Kedua, beberapa kelemahan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain: (1) mempunyai peranan yang terbatas terhadap perencanaan pendidikan, karena pendekatan ini telah mengabaikan peran sekolah menengah umum, dan lebih mengutamakan sekolah menengah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Dalam realitasnya masih banyak lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur (output-nya tidak terserap di dunia kerja); (2) perencanaan ini lebih menggunakan orientasi, klasifikasi, dan rasio antara permintaan dan persediaan; dan (3) tujuan utamanya untuk memenuhi tuntutan dunia kerja, sedangkan disisi lain tuntutan dunia kerja selalu berubah-ubah (bersifat dinamik) begitu cepat, sehingga lembaga pendidikan kejuruan sering kurang mampu mengantisipasinya dengan baik (Vebriarto. 1982; Abin, S. Makmun, dkk. 2001; Usman, H. 2008).
                              1. 3. Pendekatan keefektifan biaya
                              Pendekatan ini berorientasi pada konsep Investment in human capital (investasi pada sumber daya manusia).  Pendekatan ini sering disebut pendekatan untung rugi. Diantara ciri-ciri pendekatan ini antara lain: (1) pendidikan memerlukan biaya investasi yang besar, oleh karena itu perencanaan pendidikan yang disusun harus mempertimbangkan aspek keuntungan ekonomis; (2) pendekatan ini didasarkan pada asumsi, bahwa: (a)  kualitas  layanan pendidikan akan menghasilkan output yang baik dan secara langsung akan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi masyarakat; (b) sumbangan seseorang terhadap pendapatan nasional adalah sebanding dengan tingkat pendidikannya; (c) perbedaan pendapatan seseorang di masyarakat, ditentukan oleh kualitas pendidikan bukan ditentukan oleh latar belakang sosialnya; (3)  perencanaan pendidikan harus betul-betul diorientasikan pada upaya meningkatkan kualitas SDM (penguasaan Iptek), dan dengan tersedianya kualitas SDM, maka diharapkan income masyarakat akan meningkat; dan (4) program pendidikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi akan menempati prioritas pembiayaan yang besar.
                              Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan dengan pendekatan  keefektifan biaya, yaitu. Pertama, kelebihan pendekatan keefektifan biaya, antara lain: (a) perencanaan pendidikan yang disusun akan mempunyai aspek fungsional dan keuntungan ekonomis, sehingga bentuk-bentuk layanan pendidikan yang dianggap kurang produktif bisa ditiadakan melalui pendekatan efisiensi investasi; dan (b)  pendekatan ini selalu memilih alternaif yang menghasilkan keuntungan lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan.
                              Kedua, kelemahan pendekatan keefektifan biaya, antara lain: (a) akan mengalami kesulitan dalam menentukan secara pasti biaya dan keuntungan (cost and benefit) dari layanan pendidikan, terlebih apabila digunakan mengukur keuntungan untuk periode atau masa yang akan datang; (b) sangat sulit untuk mengukur secara pasti atau menghitung keuntungan (benefit) yang dihasilkan oleh seseorang dalam lapangan pekerjaan yang dikaitkan dengan layanan pendidikan sebelumnya; (c) pendekatan ini mengabaikan hubungan antara penghasilan seseorang dengan faktor internal individu (misalnya, motivasi, disiplin nurani, kelas sosial, orientasi hidup individu, dan sejenisnya), dan hanya melihat hubungan antara tingkat pendidikan dengan penghasilan; (d) perbedaan pendapatan seseorang sebenarnya tidak semata-mata menunjukkan kemampuan produktivitas individual, tetapi ada faktor lain yang ikut menentukan yaitu faktor konvensi sosial atau banyak dipengaruhi dari kerja kelompok; dan (e) keuntungan dari pendidikan pada dasarnya tidak hanya diukur berupa keuntungan finansial (material), tetapi juga dapat dilihat dari keuntungan sosial-budaya (Abin, S. Makmun, dkk. 2001; Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007).
                              1. 4. Pendekatan integratif
                              Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan integrasi (terpadu) dianggap sebagai pendekatan yang lebih lengkap dan relatif lebih baik daripada ketiga pendekatan di atas. Pendekatan ini sering disebut dengan ‘pendekatan sistemik atau pendekatan sinergik’. Diantara ciri atau karakteristik pendekatan integratif adalah, bahwa perencanaan  pendidikan yang disusun berdasarkan pada: (1)  keterpaduan orientasi dan kepentingan terhadap pengembangan individu dan pengembangan sosial (kelompok); (2) keterpaduan antara pemenuhan kebutuhan ketenagakerjaan (bersifat pragmatis) dan juga mempersiapkan pengembangan kualitas akademik (bersifat idealis) untuk mempersiapkan studi lanjut; (3) keterpaduan antara pertimbangan ekonomis (untung rugi), dan pertimbangan  layanan sosial-budaya dalam rangka memberikan kontribusi terhadap terwujudnya integrasi sosial-budaya; (4) keterpaduan pemberdayaan terhadap sumber daya lembaga, baik sumber daya internal maupun sumber daya eksternal; (5) konsep bahwa seluruh unsur yang terlibat dalam proses layanan pendidikan (pelaksanaan program) di setiap satuan pendidikan merupakan ‘suatu sistem’; dan (6)  konsep bahwa kontrol dan evaluasi pelaksanaan program (perencanaan pendidikan) melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan proses layanan kualitas pendidikan, dengan tetap berada dalam komando pimpinan atau kepala satuan pendidikan. Sedangkan pihak-pihak yang dapat terlibat dalam proses evaluasi pelaksanaan perencanaan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah: (a) Kepala sekolah; (b) Guru; (c) Siswa; (d) Komite Sekolah, (e) Pengawas sekolah; dan (f) Dinas pendidikan (Vebriarto. 1982; Soenarya, E. 2000; Depdiknas, 2001, 2006).
                              Sedangkan kelebihan dan kelemahan pendekatan perencanaan pendidikan integrasi atau terpadu adalah: Pertama, kelebihan pendekatan terpadu antara lain: (1) semua sumber daya (internal-eksternal) yang dimiliki dalam proses pengembangan pendidikan akan terberdayakan secara baik dan seimbang; (2) dalam proses pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan memberikan peluang secara maksimal kepada setiap warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan komite sekolah (tokoh dan orang tua wali siswa) untuk berkontribusi secara positif sesuai dengan status dan peran masing-masing; (3) peluang untuk pencapaian tujuan pendidikan yang telah dirumuskan akan lebih efektif, karena dalam perencanaan terpadu memberikan porsi yang cukup besar bagi pemberdayakan semua potensi yang dimiliki secara kelembagaan, dan menuntut partisipasi aktif dari semua warga sekolah; (4) perencanaan pendidikan yang terpadu akan mampu menghadapi perubahan atau dinamika kehidupan sosial, ekonomi dan budaya atau tingkat kompetisi yang begitu tinggi di semua bidang kehidupan di era globalisasi; (5) pelaksanaan pendekatan perencanaan pendidikan terpadu secara baik akan mampu mensosialisasi dan menginternalisasi setiap warga sekolah, untuk membangun sikap mental dan pola perilaku yang integral atau multidimensional atau komprehensif dalam memahami dan melaksanakan setiap agenda kehidupan di masyarakat; dan (6) output dari proses layanan pendidikan pada peserta didik  akan lebih menampilkan potret hasil pendidikan yang lengkap, baik kualitas akademiknya, kualitas kepribadiannya dan kualitas ketrampilannya.
                              Kedua, kelemahan pendekatan terpadu antara lain: (1) pendekatan ini memerlukan ketersediaan kualitas sumber daya manusia (pendidik dan tenaga kependidikan), khususnya kualitas pengetahuan, mentalitas atau kepribadiannya, dan spiritualnya. Dalam realitasnya menurut data Depdiknas 2006-2007, khususnya tentang kualitas tenaga pendidik (guru) secara makro (Nasional) dari jenjang pendidikan paling dasar sampai menengah atas yang betul-betul telah memenuhi standar kualitas guru yang professional masih kurang dari 20 %, atau kurang lebih 80 % guru-guru di Indonesia belum memiliki kualifikasi sebagai guru yang profesional (Arifin, 2007). Hal ini tentu sangat menyulitkan proses pelaksanaan perencanaan pendidikan yang integratif;  (2) perencanaan pendidikan terpadu menuntut kualitas pengelolaan manajemen kelembagaan secara transparan, akuntabel, demokratik dan visioner. Dalam realitasnya masih banyak dijumpai  pola pengelolaan manajemen di setiap satuan pendidikan yang tidak selaras dengan prinsip-prinsip Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS); dan (3) perencanaan pendidikan terpadu menuntut kualitas peran serta masyarakat (PSM), dalam meningkatkan layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan, khususnya dalam melaksanakan empat peran penting, yaitu sebagai: (a) pemberi pertimbangan (advisory); (b) pendukung (supporting); (c) pengontrol  (controlling); dan (d) mediator (Depdiknas, 2006). Dalam realitasnya keempat peran tersebut belum terlaksana dengan baik di setiap lembaga atau satuan pendidikan.
                              Jadi, uraian tentang kelemahan pendekatan integratif atau terpadu atau sistemik sejatinya tidak menyangkut ranah konseptual, tetapi lebih bersentuhan pada tataran unsur pendudukung dalam pelaksanaan program (aplikasinya). Oleh karena itu secara konseptual pendekatan perencanaan integrasi merupakan pendekatan yang paling baik apabila dibandingkan dengan pendekatan yang lain yang lebih bersifat parsial (sektoral). Hal yang paling kunci untuk mendukung pelaksanaan program pendidikan pada perencanaan pendidikan integratif adalah: (a) terus mendorong pengembangan kualitas SDM warga sekolah; (b) terus meningkatkan kualitas manajemen satuan pendidikan berdasarkan prinsip-prinsip MPMBS; dan (c) terus meningkatkan kualitas peran serta masyarakat (PSM) untuk mencapai tujuan pendidikan.
                              C. Metode dan Model Perencanaan Pendidikan
                              1. 1. Metode perencanaan pendidikan
                              Ada beberapa metode perencanaan pendidikan yang perlu dipahami oleh setiap penyusun perencanaan pendidikan, antara lain:
                              1. a. Metode analisis sumber-cara-tujuan. Metode  ini dipakai untuk meneliti sumber-sumber dan beberapa alternatif pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah: (a) melakukan analisis tentang sumber daya yang ada, baik sumber daya internal atau eksternal yang dimiliki; (b) melakukan analisis tentang beberapa metode (cara) atau strategi yang dapat dilakukan dalam proses pelaksanaan program yang telah dirancang, agar efektif dalam pencapaian tujuan; dan (c) melakukan analisis tentang tujuan jangka pendek, menengah dan tujuan jangka panjang secara integral dan berkesinambungan,
                              2. b. Metode analisis masukan-keluaran. Metode ini dipakai untuk menganalisis beberapa faktor input pendidikan, proses pendidikan dan output pendidikan. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah: (1)  melakukan analisis tentang faktor-faktor input pendidikan, misalnya: (a) analisis memiliki kebijakan mutu sekolah; (b) analisis sumber daya tersedia dan siap; (c) analisis tentang harapan prestasi yang tinggi; (d) analisis terhadap pelanggan (khususnya pada peserta didik yang masuk);  dan (e) analisis manajemen MBS   (Dirjen Dikdasmen, 2006; Bafadal, I. 2003); (2) melakukan analisis tentang proses layanan pendidikan, misalnya: (a) analisis efektivitas proses belajar mengajar; (b) analisis kepemimpinan sekolah yang demokratis; (c) analisis pengelolaan SDM dan keuangan yang efektif, transparan dan akuntabel; (d) analisis sekolah berbudaya mutu; (e) analisis sekolah yang memiliki teamwork yang kompak, cerdas, visioner dan dinamik; (f) analisis kemandirin dalam pengelolaan sumber daya sekolah; dan sebagainya (Dirjen Dikdasmen, 2006); dan (3) melakukan analisis output pendidikan, misalnya: (a) analisis kualitas karya sekolah; (b) analisis produktivitas warga sekolah; (c) analisis lulusan dengan kebutuhan masyarakat; dan sebagainya.
                              3. c. Metode analisis ekonometrik. Metode ini memakai data empirik, statistik, kuantitatif dan teori ekonomi dalam mengukur perubahan untuk hubungannya dengan ekonomi. Metode ini lebih dekat dengan pendekatan perencanaan pendidikan model untung rugi atau  keefektifan biaya. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah: (1) melakukan analisis secara empirik atau kuantitatif tentang sumber daya dan sumebr dana yang dimiliki oleh lembaga, yang berpotensi untuk bisa dikembangkan secara maksimal dalam rangka meraih keuntungan finansial secara maksimal; dan (2) melakukan analisis  tentang peluang output dari layanan pendidikan yang dapat terserap oleh dunia usaha atau industri, sehingga layanan pendidikan yang diberikan betul-betul mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karena proses layanan pendidikan yang tidak bernilai produktif (memberi nilai ekonomis) harus ditiadakan.
                              4. d. Metode diagram sebab akibat. Metode ini dipakai dalam perencanaan yang menggunakan sekuen hipotetik untuk mendapatkan gambaran masa depan yang lebih baik. Metode ini hampir sama dengan pendekatan strategik. Sebagai penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, hal-hal yang perlu dilakukan adalah: (1) melakukan analisis beragam problem atau beragam tantangan yang akan dihadapi oleh dunia pendidikan di masa yang akan datang. Oleh karena itu diperlukan adanya analisis SWOT (Strength atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunity atau kesempatan, and Threat atau ancaman) secara cermat pada semua aspek atau bidang-bidang pendidikan yang akan dikembangkan. Tujuan dilakukan analisis SWOT adalah untuk mengenali tingkat kesiapan setiap bidang pendidikan atau aspek kelembagaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan; dan (2) melakukan analisis tindakan atau langkah-langkah yang tepat, yang dapat dilaksanakan dalam menghadapi beragam tantangan atau problem yang muncul pada era yang akan datang.
                              5. e. Metode analisis siklus kehidupan. Metode ini dipakai untuk mengalokasikan sumber daya yang ada di sekolah dengan memperhatikan siklus kehidupan produksi atau output layanan pendidikan (lulusan), proyek, program dan proses kegiatan layanan pendidikan. Tahapan yang perlu diperhatikan oleh penyusun perencanaan pendidikan yang menggunakan metode ini, adalah: (1) melakukan konseptualisasi program-program dalam perencanaan pendidikan; (2) spesifikasi program-program dalam perencanaan pendidikan; (3) pengembangan prototipe layanan pendidikan; (4) pengujian dan evaluasi program-program dalam perencanaan pendidikan; (5) operasi; dan (6) produk atau output layanan pendidikan (lulusan).
                              6. f. Metode proyeksi. Metode ini paling banyak dipakai dalam perencanaan pendidikan di tingkat mikro (lembaga satuan pendidikan). Perencanaan pendidikan yang menggunakan metode proyeksi, akan menghasilkan cara (metode) pemecahan masalah penduduk lima tahunan, data persekolahan, proyeksi penduduk usia sekolah, proyeksi siswa, proyeksi ruang kelas, dan proyeksi kebutuhan guru. Dalam metode ini paling tidak ada tiga metode proyeksi, yaitu:
                              1)    Angka pertumbuhan siswa. Angka pertumbuhan siswa adalah perhitungan kenaikan siswa setiap tahunnnya, dengan menggunakan rumus:
                              Sn-1 – Sn-2
                              Apn =                                   X 100 %
                              Sn-2
                              Keterangan:
                              Apn  = Angka Pertumbuhan siswa tahun n
                              Sn-1 = Siswa tahun n-1
                              Sn-2 = Siswa tahun n-2
                              2)    Kohort siwa. Kohort adalah satu angkatan siswa yang masuk kelas 1 (awal) sampai tamat sekolah. Contoh, pada tahun pelajaran 2010-2011 siswa yang masuk kelas VII SMP/ MTs berjumlah 500 orang,kemudian tiga tahun berikutnya  2012-2013 yang lulus adalah 470 siswa (94%), sedangkan yang tidak lulus 30 siswa (6 %).
                              3)    Arus siswa. Proyeksi arus siswa ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat dan tepat karena memberikan data yang mendekati kenyataan. Hal ini disebabkan proyeksi ini menggunakan berbagai parameter yang mengontrol hasil proyeksi tiga arus dari setiap tingkat, yaitu: (a) angka mengulang; (b) angka naik kelas; dan (c) angka putus sekolah (Usman, H. 2008).
                              2. Model perencanaan pendidikan
                              Ada beberapa model perencanaan pendidikan, yaitu: Pertama, model komprehensif. Model ini digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam layanan pendidikan secara menyeluruh. Disamping itu, model ini berfungsi juga sebagai pedoman dalam menguraikan beragam rencana yang lebih khusus ke arah tujuan pendidikan yang lebih luas.
                              Kedua, model pembiayaan dan keefektifan biaya. Model ini digunakan untuk menganalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas pembiayan layanan pendidikan. Dengan model ini dapat diketahui proyek layanan pendidikan yang mana yang paling layak atau terbaik untuk didanai dan dikembangkan dibandingkan dengan proyek-proyek lainnya. Model ini hampir sama dengan pendekatan untung rugi.
                              Ketiga,  model Planning, Programming, Budgeting System (PPBS), yaitu model sistem perencanaan, pemrograman, dan penganggaran layanan pendidikan. Model ini banyak dipergunakan pada perencanaan pendidikan perguruan Tinggi Negeri. PPBS meruapakan suatu pendekatan sistematis dan komprehensif yang berusaha menentukan tujuan, mengembangkan program-program untuk dicapai dengan menggunakan anggaran seefisien dan seefektif mungkin, dan mampu menggambarkan kegiatan program pendidikan jangka panjang.
                              Keempat, model target setting.   Model ini dipergunakan untuk memperkirakan atau memproyeksi tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya diperlukan model untuk analisis demografis dan proyeksi penduduk, model untuk memproyeksikan jumlah peserta didik di sekolah, dan model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja. Persoalan yang muncul adalah, model yang manakah yang paling baik diterapkan dalam penyusunan perencanaan pendidikan?, Menurut para ahli sebaiknya model perencanaan pendidikan yang dipakai dalam proses layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah mengintegrasikan beberapa model tersebut di atas, dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh masing-masing lembaga pendidikan  (Abin, S. Makmun, dkk. 2001; Usman, H. 2008).
                              1. D. Kesimpulan
                              Uraian tentang konsep perencanan pendekatan dan model perencanaan pendidikan tersebut di atas dapat diambil pokok-pokok kajian sebagai kesimpulan sebagai berikut.
                              Pertama,  bahwa  konsep yang ada dalam pengertian perencanaan pendidikan, paling tidak mengandung lima hal, yaitu: (a) suatu rumusan rancangan  kegiatan yang ditetapkan berdasarkan visi, misi dan tujuan pendidikan; (b) memuat prosedur dalam  proses kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan; (c) merupakan alat kontrol pengendalian perilaku warga satuan pendidikan; (d) memuat rumusan hasil yang ingin dicapai dalam proses layanan pendidikan kepada peserta didik; dan (e) menyangkut masa depan proses pengembangan dan pembangunan pendidikan dalam waktu tertentu, yang lebih berkualitas. Kedua,  manfaat perencanaan pendidikan adalah dapat digunakan sebagai: (a) standar pelaksanaan dan pengawasan proses layanan  pendidikan; (b) media pemilihan berbagai alternatif langkah strategi penyelesaian yang terbaik bagi upaya pencapaian tujuan pendidikan; (c) media mengefisiensikan dan mengefektifkan pemanfaatan beragam sumber daya lembaga pendidikan; (d) media untuk memudahkan dalam berkoordinasi dengan berbagai pihak atau lembaga pendidikan yang terkait, dalam rangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan; dan (e) alat dalam mengevaluasi pencapaian tujuan proses layanan pendidikan.
                              Ketiga, suatu perencanaan pendidikan, paling tidak memiliki ciri atau karakteristik, yaitu perencanaan pendidikan harus: (a) berorientasi pada visi, misi kelembagaan yang akan diwujudkan; (b) mempunyai tahapan program jangka waktu tertentu yang akan dicapai secara berkesinambungan; (c) mengutamakan nilai-nilai manusiawi dan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya; (d) memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik secara maksimal; (e) komprehensif dan sistematis serta disusun secara logis, rasional; (f) diorientasikan untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia  yang berkualitas; (g) dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis; (h)  menggunakan sumber daya (resources) internal dan eksternal secermat mungkin; (i) berorientasi kepada masa dating atau visioner; dan (j) responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di masyarakat dan bersifat dinamik; dan (k) merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan.
                              Keempat, beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain: (a) prinsip interdisipliner; (b) prinsip fleksibel; (c) prinsip efektifitas-efisiensi; (d)   prinsip progress of change; (e)  prinsip objektif, rasional dan sistematis; dan (f)  prinsip kooperatif-komprehensif; dan (g) prinsip human resources development. Kelima, beberapa tahapan yang semestinya harus dilalui dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain: (a) tahap need assessment; (b)  tahap formulation of goals and objective; (c)   tahap policy and priority setting; (d) tahap program and project formulation; (e) tahap feasibility testing; (f) tahap plan implementation; dan (g)   tahap evaluation and revision for future plan. Keenam, ada beragam pendekatan perencanaan pendidikan, yaitu: pendekatan kebutuhan sosial (social demand approach); pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach); pendekatan untung rugi (cost and benefit approach); dan pendekatan keefektifan biaya (cost effectiveness approach).
                              Ketujuh, beberapa metode perencanaan pendidikan yang perlu dipahami oleh setiap penyusun perencanaan pendidikan, antara lain: (a) metode analisis sumber-cara-tujuan; (b) metode analisis masukan-keluaran; (c) metode analisis ekonometrik; (d) metode diagram sebab akibat; (e) metode analisis siklus kehidupan; dan (f) metode proyeksi. Kedelapan, ada beberapa model perencanaan pendidikan, yaitu: (a) model komprehensif, model ini digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam layanan pendidikan secara menyeluruh; (b) model pembiayaan dan keefektifan biaya,  model ini digunakan untuk menganalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas pembiayan layanan pendidikan; (c)  model Planning, Programming, Budgeting System (PPBS), yaitu model sistem perencanaan, pemrograman, dan penganggaran layanan pendidikan; dan (d)  model target setting, model ini dipergunakan untuk memperkirakan atau memproyeksi tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu.

                              DAFTAR PUSTAKA
                              Abin, S. Makmun, dkk. 2001. Perencanaan Pembangunan Pendidikan. Depdiknas. Jakarta.
                              Atmadi, A dan Setiyaningsih (Ed). 2000. Transformasi Pendidikan, Memasuki Milenium Ketiga. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
                              Arifin, 2007. “Problematika SDM Guru Dalam Penerapan KTSP (Sebuah Renungan mencari jalan keluar)”. Jurnal, Media, Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur. No. 08 /Th.XXXVII / Oktober 2007. hal: 62-65.
                              Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Bumi Aksara. Jakarta.
                              Banghart, F.W and Trull, A. 1990. Educational Planning. New York: The MacMillan. Company.
                              Bell Gredler, Margaret E., 1986. Learning and Intruction: Theory into Practice. New York: Macmillan Publishing Company.
                              BSNP, 2006. Standar Isi. Badan Standar Nasional Pendidikan, Jakarta.
                              Dahana, OP and Bhatnagar, OP. 1980. Education and Communication for Development,  Oxford & LBH Publishing C.O. New Delhi.
                              Depdiknas, 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Jakarta.
                              ____, 2003, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas. Jakarta.
                              ____, 2005,a. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
                              ____, 2005,b. Standar Nasional Pendidikan. PP. Nomor 19 Tahun 2005. Depdiknas, Jakarta.
                              ____, 2006. Pemberdayaan Komite Sekolah. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
                              Djohar, 1999. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia. IKIP. Yogyakarta
                              Langgulung, H., 1992. Asas-asas Pendidikan Islam. Pustaka Al Husna. Jakarta
                              Mulyasa, E. 2003, Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Remaja Rosdakarya. Bandung.
                              Sa’ud, S. dan Makmun A,S. 2007. Perencanaan Pendidikan, Suatu Pendekatan Komprehensif. Remaja Rosdakarya. Jakarta.
                              Sagala, S. 2009. Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Alfabeta. Bandung.
                              Sanjaya, W., 2007. Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Penerbit Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
                              Soenarya, E. 2000. Pengantar Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem. Adicita. Yogyakarta.
                              Tilaar.H.A.R. 1998. Manajemen Pendidikan Nasional (Kajian Pendidikan Masa Depan). PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.
                              Oliver, Paul, ed. 1996. The Management of Education Change. England: Asghate Publishing Limited.
                              Usman, H. 2008. Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan.Bumi Aksara. Jakarta.
                              Vebriarto. 1982. Pengantar Perencanaan Pendidikan. Penerbit Paramita. Yogyakarta